Informasi

MAHASISWA LUAR NEGERI INCAR MAHAD SAID BIN ZAID BATAM.

8.pngMa’had Said Bin Zaid Batam saat ini tengah menerima mahasiswa baru tahun akademik 2014-2015. Jumlah mahasiswa pun pada tahun ini mengalami peningkatan terutama mahasiswa asing.

“Alhamdulillah untuk semester ini lumayan banyak para pelajar baik Indonesia, anak pulau maupun dari luar negeri. Mungkin ini bentuk semangat kita sama-sama mensosialisasikkan ma’had kita ke pulau-pulau maupun keluar negeri”. Ungkap Mudir Ma’had Said bin Zaid batam, Ahmad Jalili,Lc.(7/4/14).

Saat ditemui di meja kerjanya Ust. Ahmad jalili juga menyebutkan Ada juga sebagian pelajar dari anak-anak pulau ada dari Malaysia, Thailand dan mahasiswa dari Thailand paling banyak untuk tahun ini dan pihak ma’had pun sedang mengupayakan pelajar dari Vietnam, Kamboja dan Filipina walaupun agak “ribet ngurusnya” .

Untuk jumlah mahasiswa baru keseluruhan pada tahun ini 83 mahasiswa, 9 dari lokal, Natuna 6, Karimun 2, Lingga 2, Bintan 3, Tanjung pinang 2, Belakang padang 2 dan selebihnnya berasal Luar Negeri.

Untuk mahasiswa baru luar negeri saat ini  berjumlah 57 orang. Mahasiswa Thailand 34, Singapura 1, Kamboja 5, Filiphina 8, Vietnam 8, Malaysia 1, (sudah termasuk dalam proses di kedutaan) usia mereka rata-rata berkisar antara 18 – 20 tahun. Dan untuk mahasiswa Singapura tahun ini ada yang berumur 70 tahun namun semangat untuk belajar ilmu agama terutama bahasa Arab tidak membuat semangatnya lemah.

Ma’had Said Bin Zaid Batam mungkin terbilang baru namun minat dan semangat para pelajar luar negeri untuk mempelajari bahasa Arab tidak membuat mereka putus untuk berusaha, salah satu mahasiswa baru luar negeri asal Malaysia Shah Raiman mengatakan bahwasanya dirinya belajar bahasa arab untuk memahami makna dalam Alqur’an dan untuk bisa melanjutkan studinya di luar negeri.

Berbeda dengan Husein mahasiswa Tamhidy asal Song kla, Thailand dirinya memilih belajar di ma’had ini selain untuk belajar bahasa Arab, dia juga ingin mencari pengalaman di negeri orang dan ingin bisa berbicara bahasa Indonesia.

Walaupun sebagian mahasiswa ada yang belum mengerti bahasa Arab bahkan mereka hanya mengerti bahasa asal mereka dan ini juga menjadi salah satu tantangan bagi para dosen dalam menyampaikan materi pelajaran kepada mereka yang belum mengerti bahasa Arab.