Informasi

ROBOHNYA MUSHOLLAH KAMPUNGKU

Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan takut kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk (at-Taubah: 18)

Sungai Pandan, 20 Desember 2014

Subuh ini begitu dingin, jari-jariku beku tak bereaksi. Ayam yang biasanya rajin bertasbih di atas pohon jambu kini diam membisu, lebih memilih menikmati hangatnya selimut dedaunan. Sinfoni awan yang begitu kelabu diatas menara mushollah, menutupi cahaya rembulan dan gugusan bintang-bintang, tak membiarkan setitik cahayanya menerangi kampung kami. Keliatannya awan begitu muram dan sedih. Tetesan embun suci yang biasanya turun di subuh hari, kini kering. Rumput-rumput kecil menanti embun dari sepertiga malam bertanya-tanya.

Mengapa subuh ini begitu kelabu? Matanya terus awas ketimur, tubuhnya yang kering kurus menggigil bertasbih, mengingat Firman Rabbnya. Mengapa manusia begitu lalai. Padahal, sang peniup sangkakala sudah siap menerima perintah, tiupan faza’ pertama sudah cukup memporak-porandakan dunia seisinya.

Rumput-rumput kecil itu begitu takut, tiba-tiba daun pintu berbunyi, pintu dibuka, muncul orang tua dengan baju koko yang sudah lusuh dari bilik pintu, kaki kirinya yang sudah tak kuat lagi menahan beban hidup dipundaknya. Ia berjalan pincang tak seimbang meraih sendal jepit biru, lalu menuju sungai kecil di depan rumahnya untuk membangunkan organ-organ yang manja, menyiraminya dengan air wudhu. Setan-setan pun menangis menjerit, kalah bertarung dengan orang tua ini. Misi yang mereka bangun semalaman hancur oleh gempuran iman Pak Tua.

Aku sendiri masih tak kuasa berpisah dengan selimut tebalku. Setan-setan berpesta, berayun-ayun diantara lentik bulu mataku . Hingga suara azan dari corong toa masjid memecah keheningan malam, kepada para pencari Ridhanya. “Asshalatu Kharummina an-Naum, Asshalatu Kharummina an-Naum” Shalat lebih baik daripada tidur. Tubuhku tersentak, setan-setan lari terpontang panting mencari perlindungan. Aku mulai merapikan selimut yang membalut tubuhku, segera kaki ini melangkah kekamar mandi dengan mata yang masih berat. Tapi, terus aku paksakan. Kuraih air tuk berwudhu. Air begitu dingin. Otak kecilku bertanya, “Bagaimana Bapak itu mampu bangun begitu subuh. Apa ia tidak kedinginan?” Ah, cepat-cepat aku buang pikiran yang mencuri waktuku untuk shalat jamaah di mushallah.

Ketika sampai di sana, aku melihat ia shalat Fajar begitu khsuyu, berdiri tegak seperti pohon yang tak tergoyahkan diterpa angin. Aku yang melihatnya begitu kagum, bagaiamana ia begitu kokoh, padahal zaman sudah mulai mengrogoti tubuhnya? Aku menertawakan diriku yang begitu manja, padahal jasad ini masih segar-bugar tak kekurangan apa pun. Bukan kah dalam kamus kematian tidak ada kosa kata memilih? Ya Rabb, Ampunilah hambamu ini yang lancang memikul amanah, padahal langit, bumi, dan gunung pun tak bernyali.

Kami telah selesai shalat fajar, lima menit kami menanti kedatangan jamaah yang lain. Al-Hamdulillah, masuk wajah yang tidak asing di mataku, beliau adalah pamanku dan kepala sekolahku. Kebetulan beliau tinggal disamping mushollah, adapun kepala sekolahku di waktu masih SD memang rajin shalat jamaah meski rumah beliau agak jauh dari mushallah.

Sebenarnya, bukan rumah kami saja yang berdekatan dengan mushollah tersebut. Persisnya dua puluh rumah, tapi kemana mereka? Mengharap mereka tuk datang di subuh yang dingin ini, hampir mustahil. Kecuali, mereka yang mempunyai hati yang mencintai Allah swt. Sungguh menyedihkan mushollah kami. Andai saja telinga anak Adam bisa mendengar, pasti ia akan mendengar mimbar, sajadah, dan kubah yang menangis. Mereka akan berteriak, mengapa kalian menjadikan kami seperti kuburan. Mengapa kalian meninggalkan kami, gelap sunyi tak bernyawa oleh ayat-ayat suci. Mengapa kalian begitu semangat memaksa Pak Tua itu untuk membangun rumah ibadah, kemudian kalian meninggalkannya sendiri. Tidak kah kalian tahu, ia telah mewakafkan sebidang tanahnya membangun mushallah ini tuk bekal perjalanan, bersua dengan Sang Kekasih?

“Ihsan, Silahkan Imam” tiba-tiba Pak Tua memecahkan konsentrasiku. Aku jadi salah tingkah karena semua mata tertuju kepadaku. Tapi, aku menolaknya secara halus, aku mempunyai alasan, karena subuh itu aku tidak memakai kopiah, sehingga rambutku terurai begitu saja.

“Luruskan shaf kalian, karena lurusnya shaf adalah bagian dari kesempurnaan shalat”. Tegas beliau dengan suaranya yang lantang, menebar teror terhadap musuh-mush yang ingin mencabik-cabik barisan muslimin.

Bismillahirrahmani Ar-Rahim, umur tak mengurangi sedikit pun suara merdunya, alam pun ikut khuysu’ menikmati indahnya lantunan ayat-ayat suci yang keluar dari mulut Imam yang tulus. Kami dan malaikat subuh ikut bersujud di atas sajadah panjang, meminta ampunan kepada Yang Maha Esa, tak ada sekutu bagi-Nya, Dan pada sisi-Nya kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.”

Tapi, sujud ini begitu lama. Aku sendiri bertanya-tanya, doa apa yang Pak Tua panjatkan begitu lama. Lalu, aku memberanikan diri bangun dari sujud panjangku, begitu pula jamaah disamping. Tangan kami mencoba meraih tubuh Pak Tua yang sujud begiu lama. Brakkkk, tubuhya jatuh ke sisi kanan, kami menggoyang tubuh beliau, tapi tak ada respon. Dengan cepat kilat kupegang nadinya ternyata masih berdenyut. Namun, begitu lemah, lemah dan lemah.

Mushollah kembali menangis, runtuh berkeping-keping, roboh seroboh-robohnya. Tak ada lagi azan Pak Tua yang keluar dari corong towa. Setan-setan pun saling memberi selamat satu sama yang lain, berdansa ria. Kini, tak ada lagi yang mengusik misinya disubuh hari.

Ust. Ihsan Abdullah, Lc

(Pengajar Mahad Al Khansa / alumni LIPIA-Jakarta)